Thursday, August 4, 2016

Agustus ini kami mempersembahkan sebuah karya setelah perjalanan panjang kami sejak album pertama, segera di 27.08.16 #MeleraiLara

Thursday, May 5, 2016

Aurette And The Polska Seeking Carnival

Monday, December 14, 2015

Galeri Foto "Back To Wonderland"

Sepertinya band karnaval ini selalu lekat dengan hujan. Ketika dengan gegabah memutuskan membubarkan band ini 2 tahun yang lalu hujan deras tengah mengguyur Jogja. Pun ketika kami memutuskan reuni dan menghelat sebuah pertunjukan sederhana bertajuk Back To Wonderland di Matchamu Cafe Jum’at 11 desember kemarin hujan deras membasahi venue, membuat kocar-kacir segenap crew dan personil Orete kalang kabut berusaha menyelamatkan panggung dan berbagai peralatan musik di stage yang berada di luar ruangan.

Ya, kami luput memperhitungkan adanya sebuah tenda sangat penting untuk menutupi stage, karena siang harinya matahari masih gahar pamer panasnya. Hujan mulai mengguyur saat kami melakukan sound check pukul 3 sore dan tidak berhenti hingga pertunjukan tuntas.

                Beruntung, segenap crew dari Amat Production dan Roemansa Gilda sigap bekerja keras menyelamatkan acara kemarin. Dengan gagah berani mereka memanjat pohon di sekitar stage dan memasang atap darurat dari terpal.

Lebih beruntung lagi, para Carnivalse dan penonton tetap berdatangan ke Matchamu Cafe meski hujan rawan mengundang masuk angin dan meriang ke badan. Kami bersyukur bahwa pertunjukan sederhana malam itu tetap ramai oleh kawan-kawan yang dengan riang bergoyang bersama kami. Orete patut bersyukur Sisir Tanah tetap berkenan mendendangkan nada dan lirik sarat maknanya di tengah guyuran hujan. Kami wajib berbahagia segenap personil Orete tetap dapat bermain di panggung dengan penuh energi dan semangat sekalipun di sela pergantian lagu harus mengelap muka dan memeras lengan baju yang sarat oleh air hujan.

Semoga pertunjukan sederhana Back To Wonderland ini mampu mengobati kerinduan segenap Carnivalse pada musik kami. Bagaimana kelanjutan band karnaval ini berikutnya? Kami belum bisa memutuskan apakah karnaval akan dilanjutkan. Untuk membuat keputusan ini kami harus kembali duduk bersama dan membicarakannya dengan matang. Setidaknya band karnaval ini akhirnya berkumpul dan bermain kembali. Meminjam perkataan Eka Kurniawan seperti dendam reuni harus dibayar tuntas.

Orete

14 Desember 2015

Pintu Masuk Showcase Back to wonderland

Sisir Tanah

Aris Setyawan

Dhima Christian Datu

Penonton

Tea Datu dengan Accordeonnya

Antusian penonton

Divisi Tiup

Add caption

Rian Hidayat.


Danny Rachman

AATPSC X Sisir Tanah

Danny Rachman

Pertujukan

Aurelia Marshal
Salam






Galeri foto lebih lengkap dapat dilihat di Facebook atau Google Photos.

              

Friday, December 4, 2015

Rilis Pers: Back To Wonderland Reunion Showcase


Hari itu, 27 Januari 2014, mendung menggelayut pekat di Jogja. Ekspresi langit yang seolah merespon keputusan mengejutkan dari Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) untuk mengakhiri perjalanan sirkus mereka di wonderland. Masing-masing personil harus berfokus pada kegiatan akademis, saat itu menjadi alasan bubarnya kelompok musik asal kampus ISI Jogjakarta ini. Berita bubarnya ATTPSC cukup mengejutkan, mengingat saat itu musik folk berbumbu eropa mereka tengah naik daun dan mendapat sambutan hangat dari khalayak. Mereka bahkan sudah punya basis penggemar bernama carnivalse. EP Selftitled mereka yang dirilis dalam tiga format (cassette, CD dan vinil) juga laris manis diburu para pencari kenikmatan musik unik yang seolah datang dunia utopis ini.

Butuh waktu hampir dua tahun untuk Aurelia Marshal, Dhima Christian Datu, Aris Setyawan, Danny Rachman, Ahmad Mursyid, Khrisna Bayu dan Rian Hidayat menyadari ada yang keliru dengan keputusan mereka saat itu. Keputusan yang diakui terlalu terburu-buru dan membuat mereka lupa bahwa AATPSC sebenarnya patut diperjuangkan. Bahwa kebahagiaan yang meruap dari lagu-lagu semacam “Wonderland”, “Someday Sometimes”, “I Love You More Than Pizza”, dan “Letter To You” masih dibutuhkan untuk mewarnai dunia. Bahwa tenda sirkus mereka seharusnya masih bisa berkeliling kemana-mana. “Kami merasa musik adalah salah satu cara menjaga kewarasan di tengah kondisi dunia yang seperti sekarang. Musik karnaval kami adalah salah satu cara kami mengajak orang-orang untuk bersenang-senang dan berbahagia. Ini salah satu alasan yang akhirnya menjadikan kami berkumpul dan bermain kembali di Back To Wonderland,” ujar Aris Setyawan mewakili teman-temannya.

Untuk itu, sebagai permintaan maaf kepada carnivalse dan perwujudan tekat AATPSC untuk kembali menghidupkan tenda sirkus mereka dan membawa wonderland kemana-mana, mereka akan melangsungkan sebuah reunion showcase bertajuk “Back To Wonderland”. “Back To Wonderland” akan dilaksanakan hari Jumat, 11 Desember 2015 di Matchamu Cafe. AATPSC juga akan menggandeng musisi folk asal Jogja, Sisir Tanah untuk berkolaborasi. Dalam konser reuni ini, AATPSC akan membawa kembali nuansa wonderland ke panggung melalui musik dan tata panggung yang digarap oleh Roemansa Gilda, sebuah kolektif seni dari sisi selatan Jogja. 

Konser reuni ini mengundang siapa saja untuk hadir dan merayakan keriaan wonderland lagi, dan untuk itu tidak menggunakan tiket alias gratis. Selain pertunjukan musik, akan ada jasa sablonase dengan desain dari Dyusuv.

Akhir kata, kami mengundang siapa saja untuk merayakan kembali keriaan wonderland! See you on wonderland, carnivalse!


“BACK TO WONDERLAND” REUNION SHOWCASE
Date: Jumat, 11 Desember 2015
Time: 18.00 - end
Venue: Matchamu Cafe (Jl. Kaliurang km 5, Pogung Baru C-26)
Guest star: Sisir Tanah
FREE!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
AURETTE AND THE POLSKA SEEKING CARNIVAL
Aurelia Marshal: Vocal, ukulele
Dhima Christian Datu: Vocal, Akordeon
Aris Setyawan: Drum
Danny Rachman: Bass
Ahmad Mursyid: Trumpet
Khrisna Bayu: Trombone
Rian Hidayat:Perkusi, Fagot


Wednesday, November 25, 2015

Back To Wonderland


Dua tahun yang lalu di bulan januari. Musim penghujan sedang rajin menumpahkan air ke bumi. Kami masih ingat malam itu. Mendung menggelayut di langit Jogja. Mendung itu mengiringi kami saat memutuskan untuk mengakhiri karnaval dan membubarkan Aurette and The Polska Seeking Carnival.
Butuh waktu selama dua tahun hingga akhirnya kami tersadar bahwa keputusan mengakhir karnaval dan membubarkan Orete saat itu adalah sesuatu yang bisa dibilang cukup bodoh. Keputusan itu dibuat terburu-buru karena dipicu kenaifan kami sebagai anak muda yang kadang tidak bisa berpikir panjang.
Kondisi saat itu memang membingungkan. Kami tidak bisa lagi fokus pada band ini. Masing-masing dari kami punya kesibukan personal yang saat itu kami anggap lebih penting dari perkara bermusik di Orete.
Kekhilafan kami sebagai anak muda yang naif yang akhirnya memicu kami di malam mendung saat itu untuk dengan terburu-buru meresmikan pembubaran Orete, alih-alih berpikir dengan jernih dan mengumumkan vakum sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Butuh waktu kurang lebih dua tahun hingga akhirnya batok kepala kami tergetok oleh sebuah refleksi bahwa sebenarnya band ini layak untuk diperjuangkan. Bahwa kami harus tetap tinggal bersama di Orete, menulis lagu lagi, dan memainkan lagu itu di panggung-panggung.
Refleksi itu yang entah bagaimana menggiring kami, tujuh orang yang bernaung di Orete untuk duduk bersama dan membicarakan banyak hal. Mengakhiri diam yang sempat berakar selama dua tahun ke belakang. Serta membicarakan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa kami buat lagi bersama Orete ke depan.
Kemungkinan tersebut bisa saja berupa kesempatan melatih lagi lagu-lagu yang sempat terlupakan untuk kemudian merekamnya dalam sebuah album berikutnya yang sempat tertunda. Mungkin saja, siapa yang tahu. Tapi kemungkinan paling dekat yang bisa kami realisasikan secepatnya adalah bermain di sebuah pertunjukan reuni kecil-kecilan awal bulan Desember ini, di Yogyakarta.
Anggap saja pertunjukan kecil ini adalah semacam ajakan agar kami dan kalian bisa kembali ke Wonderland, setelah sebelumnya sempat tersesat dalam ketidakpastian selama dua tahun. Waktu, tempat, dan detail pertunjukan kecil itu akan segera kami kabarkan.
Mari kembali ke Wonderland. Semoga kalian sudi memaafkan kami yang naif dan khilaf ini.

Yogyakarta 26 November 2015.

Love
Orete.

Monday, January 27, 2014

Karnaval Harus Berakhir

Tak ada cara yang mudah untuk mengatakannya. Kami tahu akan banyak orang yang kecewa, mereka yang (barangkali) mengikuti jejak kami selama ini. Sebuah band dari selatan Yogyakarta bernama Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC). Namun diam terlalu lama juga akan membuat semuanya makin sulit, jadi kami memutuskan lebih baik kami katakan sekarang kepada para carnivalse (pendengar musik kami) dan ke khalayak luas, bahwa karnaval harus berakhir.

            Bermula dari keisengan segerombolan mahasiswa kampus seni di selatan Jogja yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, AATPSC terbentuk pada bulan april 2012. Ya, Aurette bermula sebagai band untuk senang-senang, melupakan sejenak perkara akademis di kampus yang kadang teramat menjenuhkan. Setelah 2 tahun, band iseng ini ternyata tak bisa jadi iseng lagi, karena keisengan kami ternyata mendapat apresiasi. Musik kami diterima. Setelah hampir 2 tahun, AATPSC berwara-wiri ke berbagai panggung. Besar maupun kecil. Kami banyak manggung di Jogja, sempat berkunjung ke luar kota juga seperti Bali, Bandung, dan Jakarta. Kami banyak bersenang-senang di panggung tersebut. Dengan harapan semoga carnivalse juga bersenang-senang di situ.

            Bentuk keseriusan band ini terwujud dalam sebuah EP atau mini album atau album (terserah kalian menyebutnya apa) “Self Titled” berisi 7 lagu. Album tersebut dirilis dalam 3 format fisik yakni kaset pita, CD, dan vinyl. Serta sempat dirilis bebas unduh.

            Setelah hampir 2 tahun kami bermusik, tak sedikit media (sidestream atau mainstream) yang menulis tentang kami. Ini menandakan Aurette and The Polska Seeking Carnival, sebuah band iseng-iseng dari selatan Jogja agaknya sudah menorehkan sedikit jejak di industri musik Indonesia.

            Ok, cukup sudah bernostalgia. Singkat cerita begini, meminjam istilah aa’ Ariel dari Peterpan (atau Noah) bahwa “tak ada yang abadi” maka kesenangan karnaval yang AATPSC bawakan juga tak bisa jadi abadi. Tulisan singkat ini adalah pernyataan resmi bahwa terhitung semenjak 27 januari 2014 Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) dinyatakan BUBAR. Kami harus mengakhiri kemeriahan karnaval yang selama hampir 2 tahun ini kami gaungkan. Kalau ditanya alasannya, kami ingin kembali ke dunia akademis. Beginilah band yang beranggotakan para mahasiswa. Kami harus kembali ke peran utama kami sebagai pelajar. Maka rombongan sirkus pantai selatan ini harus dibubarkan agar kami para anggotanya dapat kembali fokus ke dunia akademis, tanggung jawab kami yang paling utama.

            Tentu kami harus mengucapkan terima kasih kepada semesta. Ya, semesta dan segala isinya yang telah mendukung terbentuknya band ini. Orang-orang yang banyak membantu perjalanan band ini semenjak terbentuk hingga awal tahun 2014 ini. Mereka yang rela meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu mengenalkan band ini pada dunia. Terima kasih banyak kepada carnivalse, yang rela menyisihkan uangnya menebus rilisan album kami. Rela hadir ke setiap gigs dimana kami bermain. Sungguh, 2 tahun terakhir ini adalah momen luar biasa dan menyenangkan. Bersama kalian di setiap panggung adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

            Tulisan singkat ini harus diakhiri sama seperti judulnya bahwa karnaval harus berakhir. Kami harus mengucapkan maaf, kepada siapapun yang kami kecewakan. Apabila selama hampir 2 tahun ini ada tindakan kami yang menyakiti kalian, sungguh kami tak ada niat jahat apapun. Barangkali itu adalah bukti bahwa kami manusia, tak luput dari salah dan dosa. Kepada para carnivalse, maafkan kami!! Maaf kami harus berhenti sampai disini. Mungkin kita akan bertemu lagi di dunia lain, dunia yang berbeda dengan karnaval yang berbeda. Sebuah dunia utopis bernama Wonderland? Sekarang ijinkan kami kembali berjalan di setapak kecil kami, sebagai para pelajar yang ingin berkonsentrasi ke dunia akademis yang digelutinya.

Yogyakarta, 28 januari 2014.

Salam.

AATPSC           

Sunday, October 27, 2013

Mencari Karnaval di Negeri Khayalan oleh Christine Fransiska dari BBC

Walau baru seumur jagung, Aurette and the Polska Seeking Carnival (AATPSC) disambut baik oleh pendengar musik indie tanah air, terima kasih kepada kemampuan mereka membawakan melodi-melodi sirkus yang utopis.

Perpaduan alat musik akordeon, ukulele, trumpet, perkusi, dan drum dalam tiap lagu-lagunya membuat mereka terpisah dari kelompok musik lain, bahkan di scene musik indie sekalipun yang banyak memberi kesempatan ratusan kelompok bereksplorasi.
Saat pertama merilis EP AATPSC, yang terbatas hanya 100 CD dan 100 kaset pada Maret 2013 lalu, sudah habis terjual. Pun, format vinyl yang dirilis Oktober ini hanya tinggal bersisa beberapa kopi saja.
"Awalnya memang sengaja ingin rilis terbatas karena kita ingin tahu seberapa kuat pendengar ingin punya lagu-lagu kita, ternyata sambutannya lebih dari yang kita bayangkan," kata Danny Rachman, pemain bass, untuk program Info Musika.
Aurette and the Polska Seeking Carnival mengkategorikan musiknya sebagai jenis folk dan berharap pendengar bisa terbawa ke 'dunia yang berbeda ketika mendengar musik mereka.
"Kami ingin memberikan konsep utopis, bahwa imajinasi dan rasa ingin tahu merupakan hal yang luar biasa dan bisa buat semua orang bahagia," kata Aris Setyawan, pemain drum.
"Dengan lagu-lagu ini, kita harap pendengar bisa membayangkan dunia yang tidak punya kata sedih dalam kamusnya. Ada lagu kita, yang berjudul Wonderland yang bisa mewakili maksud kami ini."
"Bahwa mereka bisa berimajinasi, berlari di padang rumput bersama kelinci dan bahagia."
"Curiosity and imagination will be great when they’re combined. It'll take you to some new place such a wonderland. So you could imagine yourself as a seagull. Who have a clear point of view about freedom from the highest sky," begitu liriknya.

Mencari para 'Polska'

Kelompok musik yang baru berumur satu setengah tahun ini dibentuk dari proses 'ajak-ajak' teman sesama kampus di Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Awalnya hanya ada Aurelia Marshal dan Dhima Christian Datu yang merasa tidak puas suasana berkesenian di kampus mereka.
"Waktu kami latihan, sepertinya ada yang kosong. Jadi minta tolong beberapa teman yang lain untuk mengisi, mulanya drum, kemudian bass, brass, dan kemudian jadi bertujuh," kata vokalis Dhima Christian Datu yang kerap disapa Tea.
Dari situlah lima laki-laki, yaitu Aris Setyawan, Danny Rachman, Ahmad Mursyid, Khrisna Bayu, dan Rian Hidayat, bergabung meramaikan apa yang mereka sebut sebagai 'kelompok sirkus' ini.
"Jadi Aurette itu dari nama Aurel dan Tea, dan the Polska itu cowok-cowoknya. Jadilah Aurel, Tea, dan the Polska yang sama-sama mencari karnaval," sambung Tea.
Walau mengkonsepkan 'kebahagiaan', penggarapan musik mereka mungkin tak bisa dianggap senang-senang.
Aris mengaku banyak tantangan kala menggarap EP pertama, terutama tentang bagaimana menyatukan tujuh kepala - yang berarti tujuh konsep - yang berbeda-beda dalam sebuah konsep karnaval.
"Anggotanya punya latar belakang musik berbeda-beda, ada yang jazz, ada yang metal. Jadi tadinya ingin selesai buat EP satu bulan, jadi molor tiga bulan," katanya.
Info Musika adalah program BBC Indonesia yang mengupas berbagai sisi tentang musik dan disiarkan tiap Jumat petang WIB.